Rabu, 30 Maret 2011
Tentang anak2 (bukan kelucuannya, tapi nasib buruknya)
Sebuah renungan. Atas ketidakadilan dan nasib buruk anak bangsa karena punya pemimpin pandai bicara tapi tidak pandai bertanggung jawab dan hidup di tengah-tengah masyarakat yang "pendiam". inilah ceritanya.
Tempo hari saya bertemu Rizki, dia pemulung, yang ternyata juga pengemis yang khas dengan baju jelek, kotor, compang camping dan korengan. Saya melihatnya malam itu memulung kardus di depan sebuah warnet, kemudian ketika saya berniat membelikannya roti dia sudah raib dari sana, Thingak thinguk saya cari2 dia ternyata sudah ngendon di depan depot soto yang terkenal di kota ini sambil menadahkan tangan dan menelan ludah beberapa kali. Terenyuh hati saya ingin menangis, tapi saya tahan, karena saya penasaran ingin mengetahui profil si Rizki. Saya tanya-tanya dia. Jawabannya dia Rizki telah berjalan hampir 20 KM tiap hari untuk mulung didaerah kampus, berumur sembilan tahun dan putus sekolah. Terlepas dari pendapat teman-teman yang mungkin pernah mendapati pengemis yang ternyata kaya, punya rumah dan tipi, tapi menurut saya ia si Rizki juga yang lainnya itu miskin, kalaupun tidak miskin benaran, mereka tetap miskin intelektual dan juga miskin mindset. Ini salah siapa? Siapa mau bertanggung jawab?
Tentang anak-anak, inilah yang membuat saya geregetan untuk segera menuliskannya. Masih tempo hari juga, saya mendapat undangan untuk hadir pada Konferensi Pekerja Anak: Advokasi Kebijakan untuk Mendukung Penghapusan Bentuk Pekerjaan Terburuk Anak (BPTA) di Kabupaten Jember. Saya belum tahu akan membahas dan menghasilkan apa. Tetapi ini sekali lagi membuka mata saya lebih lebar juga membuat luka hati saya semakin menganga. Karena harus membaca realitas tentang keberadaan dan keadaan anak-anak di Indonesia dan di seluruh dunia.
Pernah saya mengikuti training pengkaderan yang diadakan oleh KPK, saat itu sesi perkenalan, semua peserta diminta untuk menggambar apapun yang dapat mendeskripsikan diri atau apapun yang sedang dipikirkan. Saya mulai menggambar bentuk-bentuk. Misalnya segitiga, maka saya menggambar kembali segitiga dengan ukuran lebih kecil didalam segitiga yang pertama, begitu pula lingkaran dan juga persegi. Maksud dari gambar itu adalah KEADILAN. Yang menjadi definisi keadilan adalah kebalikan dari definisi kedzaliman: meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya. Ini artinya, seharusnya bangun segitiga itu ditempatkan pada bidang segitiga saja begitu pula dengan bangun yang lain.
Keadaan yang sedang terjadi di negara ini adalah kedzliman yang besar. Dalam training tersebut saya mengungkapkan kekesalan saya atas apa yang terjadi di negeri ini, terutama misalnya, anak-anak itu lemah, yang perlu dilindungi dan membutuhkan kasih sayang. Maka tempat mereka adalah rumah yang nyaman dengan kasih sayang penuh ayah dan bunda, bukan di lampu-lampu merah, bukan pula menggelar kardus-kardus kumuh di depan etalase-etalase toko, bukan pula menjadi pembantu rumah tangga, apalagi sampai ke luar negeri. Beberapa kasus malah mereka menjadi korban human traficking, yang “bernasib baik” akan dijadikan PRT (dengan sistem perbudakan tentu saja) dan yang bernasib buruk bisa jadi pelacur dan mungkin bahkan kehilangan nyawa. Inilah ketidakadilan itu.
“Masalah pekerja anak di Indonesia, sebenarnya merupakan persoalan klasik. Hanya saja jika pada tahun 1976 hanya 13,9% anak yang menjadi buruh, kini jumlah buruh anak bisa jadi sudah berkali--kali lipat yakni mencapai 80 juta orang, atau hampir 70% dari total penduduk.
Laporan yang disampaikan ILO dalam releasenya menyebutkan, sekitar 8,4 juta anak di seluruh dunia terjebak dalam perbudakan perdagangan, praktek ijon, pelacuran pornografi dan pekerjaan terlarang. 1,2 juta diantaranya bahkan telah diperdagangkan. Angka ini belum termasuk 246 juta anak yang menjadi buruh anak.
Menghenyakkan kita memang. Tapi yang lebih membuat geram, bahwa 3 juta dari 8,4 juta yang dilaporkan, ternyata adalah anak-anak Indonesia. Mereka terpaksa bekerja dan tak jarang harus melakukan pekerjaan yang membahayakan perkembangan mental fisik dan emosionalnya. Mayoritas dari mereka, bekerja di sektor pertanian yang tidak bebas dari penggunaan bahan kimia dan peralatan berbahaya atau di jermal-jermal yang tingkat bahayanya tidak saja bersifat fisik dan biologis. Sementara lainnya memilih menjadi anak jalanan, pembantu rumah tangga, pekerja seks dan pekerja pabrik.
Hasil laporan Badan Pusat Statistik terhadap survey pekerja anak di Indonesia, jumlahnya mencapai 2,8 juta anak hingga tahun 2006. Dari jumlah tersebut, jumlah terbanyak adalah dari kaum perempuan yakni 1.734.126 orang dengan laki-laki 130.948 orang.” (dikutip dari www.indosiar.com).
Ini baru data yang “terdata” bagaimana jika ternyata jumlahnya lebih besar dari itu?. Pertanyaan ini tidak akan terjawab tentu saja (Di negara ini menghitung jumlah penduduknya saja tidak pernah valid). Lalu mana tanggung jawab? Dan siapa yang harusnya bertanggung jawab?. Berteriak kepada pemerintah hari-hari ini sudah sama dengan kau berada pada kapal yang karam, sendirian ditengah badai di lautan. Yang hanya bisa mendengar adalah Tuhan saja.
Mengeluhkan kepemimpinan mereka juga seakan menjadi rutinitas kita sebagai “orang biasa” yang tidak terlibat politik praktis apalagi duduk dalam posisi pengambil kebijakan, yang artinya adalah: cukuplah keluhan itu menjadi kambing hitam atas “ketidakmampuan” (atau mari kita jujur menyebutnya “ketidakmauan” bahkan “ketidakpedulian”) kita untuk berkontribusi. Sebagai muslim (yang sedang dan terus berusaha) produktif saya berucap na’udzubillah. Hanya kepedulian dan kerja nyata kitalah yang dapat membebaskan “anak-anak” kita dari cengkeraman ketidakadilan itu. Sekecil apapun, sesedikit apapun, mari perduli, bahkan pada apapun yang sepertinya jauh dari jangkauan kita (baca: isu pekerja anak ini).
Dalam suatu forum diskusi saya mendapat pelajaran dari seorang panelis yang mengutip Cofusius: “ketika kita ingin hidup selama setahun kedepan, tanamlah benih. Jika kita ingin hidup 5 tahun kedepan, tanamlah pohon, jika ingin hidup 50 tahun kedepan, tanamlah SDM”. Rizki dan anak-anak lainnya berhak menikmati masa kecilnya juga, masa yang adil untuk mereka, masa yang menentukan hendak jadi manusia macam apa mereka nanti. 50 tahun ke depan, generasi merekalah pemegang tampuk kepemimpinan. Semoga konferensi esok hari menghasilkan SESUATU untuk mereka. Agar tidak lagi muncul si budi kecil-nya Iwan Fals, atau si alif kecil-nya Snada, juga si Rizki kecil-nya anees.
Dalam kegalauan atas nasib anak bangsa. dan anak2ku kelak.
Love u Rizki kecil....
Diposkan oleh KAMMI Daerah Jember di 18:45 0 komentar
Aktualisasi dan militansi tanpa judul*

*oleh Anis Rohmatillah (Kaderisasi Komisariat Hukum-Fisip 2007)
Menjadi (kan) kader militan adalah impian departemen kaderisasi terhadap semua kadernya. Kader yang dia rekrut kemudian dia bina. Kesemuanya berakhir pada militansi kader kepada gerakannya bahkan lebih dari itu, militansinya terhadap Islam. Membaca dan memaknai kata militansi bagi kader KAMMI tentu sudah jauh berbeda dengan pandangan para orientalis yang seringkali menggunakan kata “militansi” untuk mengambarkan segudang cerita (mengarang) tentang terorisme.
Kader KAMMI mutlak dan wajib ain memiliki militansi gerakan sebagai ciri khas yang melekat erat dalam setiap nafas hidupnya, karena nafas organisasi tergantung pada nafas kader-kadernya. Maka berbicara tentang militansi juga berbicara tentang bagaimana itu mungkin terwujud. Bicara tentang militansi adalah bertanya tentang seperti apa itu wujudnya. Jika ada yang bertanya begini kepada semua kader, tentu saja akan mendapati jawaban yang berbeda-beda. Tapi sekarang mari kita bicara militansi dengan kacamata aktualisasi diri.
Mari kita maknai Militansi dan aktualisasi diri satu persatu dahulu. Dalam kamus Bahasa Inggris, Militancy memiliki arti; semangat baja atau semangat berjuang. Imam Hasan Al Banna mengatakan bahwa semangat berharokah adalah keniscayaan dalam berdakwah dan merupakan penggerak cita-cita. Semangatlah yang menggerakan jasad kita untuk tetap berharokah dan beramal.
Sedangkan Aktualisasi diri dalam wikipedia didefinisikan sebagai “kebutuhan naluriah pada manusia untuk melakukan yang terbaik dari yang dia bisa”. Jelas sudah apa yang dimaksud aktualisasi disini. Mengapa dari aktualisasi bisa menjadi militansi? Karena ketika kader mengaktualisasikan dirinya disaat itulah ia sedang memberikan yang terbaik bagi gerakan dakwahnya.
Sekali waktu ada yang bertanya, apakah militansi itu selalu PENUH dengan BEBAN dan AMANAH? Satu dua kali bisa jadi itu benar, seorang kader dakwah (baca: anak KAMMI) pantang mundur dengan amanah. Dan amanah memanglah sebuah beban yang juga merupakan sebuah keniscayaan yang akan dipanggul pundak-pundak kader dakwah. Bisa jadi juga pertanyaan itu tidak terlalu benar, karena sering terbersit dalam pikiran kader bahwa mereka yang amanahnya segudang adalah mereka yang militansinya tinggi. Mengapa ini menjadi salah? ini menjadi salah manakala beban amanah yang ditanggungnya banyak dan bejibun tetapi dia tidak memberikan kesempurnaan yang pasti dalam eksekusinya. Dia tidak beraktualisasi dengan total entah dengan banyak alasan tentunya, dari yang syar’i hingga yang “dibuat”syar’i, meminjam istilah akh Agus Supriyadi Unsoed “kader-kader zombi”, yaitu kader dakwah yang berjalan tanpa ruh dan semangat. Astaghfirullah tsumma na’udzubillahi min dzalik.
Selanjutnya, konsep aktualisasi diri yang berarti totalitas mendapat dukungan dari firman Allah ta’ala dalam surat almu’minun (23):8
Artinya: “Dan (sungguh beruntung) orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya”
Jika semua kader mau dan berani memberikan aktualisasi diri kepada gerakan, niscaya targetan kaderisasi untuk mempunyai kader-kader yang militan akan segera tercapai. Karena ayat tersebut bicara mengenai profesionalitas untuk itulah kader militan juga akan terwujud manakala profesionalitas senantiasa dijaga dan dilakukan.
KAMMI adalah Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia, ada nilai luhur dan sangat mendalam saat para founding fathers kita membidani kelahiran gerakan ini dan kemudian menamainya KAMMI. KAMMI seharusnya sarat dengan pemuda-pemuda yang tak bisa diam (baca: aksi) dan oleh karenanya “pihak-pihak” yang berwenang sudah seharusnya membantu kadernya untuk dapat terus beraktualisasi. Contoh konkritnya adalah KAMMI sebagai Harokatut tajnid, harokah kaderisasi, demikian disebut dalam manhaj. Tiang kaderisasi adalah perekrutan, pembinaan dan pemberdayaan, maka kaderisasi tidak selesai pada tugas perekrutan dan pembinaan saja. Mereka harus bergerak aktif memberikan ruang aktualisasi diri kader dalam rangka pemberdayaan itu.
“Kegagalan” kaderisasi (yang mungkin ada) untuk mencetak kader-kader militan bisa jadi memang salah departemen itu sendiri, tetapi bisa jadi juga tidak (apakah anda tau seberapa banyak kata bisa jadi itu bisa terjadi dalam hidup yang tidak bisa ditebak ini?). Begini maksudnya, bagaimanalah kader akan terbentuk militansinya jika dengan gerakannya sendiri ia tidak kenal. Ia tidak tahu cara gerakannya (baca: organisasinya) mengadakan rapat, kegiatan dan bersidang misalnya. Namun, sebagai kader KAMMI penulis yakin kaderisasi KAMDA Jember telah lama melakukan itu, penulis-pun dulu pernah berada di departemen “basah” itu walaupun di tingkat komisariat. Tetapi terkadang yang menjadi ganjalan dalam perjalanannya adalah kader itu sendiri. Ketika kaderisasi telah memberikan ruang sebebas-bebasnya bagi para kader untuk melakukan aktualisasi diri, para kader tidak menyambut gayung yang diayunkan departemen ini, sekali lagi tentunya dengan banyak alasan syar’i dan (dibuat) syar’i. Ibarat bertepuk sebelah tangan, pernyataan cinta ini tak dijawab dengan pasti, sayang sekali. Adalagi yang kemudian menyalah-nyalahkan proses tarbiyahnya, menyalahkan jadual liqo-nya yang tidak jalan, menyalahkan murobbinya bahkan menyalahkan teman-teman liqoatnya. Apakah salah menyalahkan mereka? Tidak juga, karena bisa jadi (lagi) itu benar adanya, untuk itulah perlu kerjasama kolektif dari semua pihak. Dari mulai kaderisasi yang punya kepentingan mencetak kader militan, murabbi sebagai perangkat tarbiyah kader, juga kader itu sendiri yang diharapkan “tahu diri” dia sedang menjadi target sasaran pencerdasan intelektual, ruhiyah dan jasadiyah (mungkin) sehingga terjadilah harmoni kaderisasi itu.
Kisah militansi sebagai kepentingan departemen kaderisasi saja (yang terdapat pada kalimat pembukaan) sebenarnya juga tidak selalu seperti itu, ada banyak calon kader yang memang dengan sengaja menceburkan dirinya dan dengan suka rela menjadi basah dalam gerakan dakwah. Suka atau tidak suka, militansi harus dimiliki atau (dipaksa) untuk dimiliki oleh setiap kader. Walaupun sebenarnya menurut penulis yang terbaik adalah ikhlas beraktualisasi dan bermilitansi, inilah yang penulis maksud dengan aktualisasi dan militansi tanpa judul. Karena dalam At- taubah (9):41 Allah Ta’ala sudah terlanjur menjanjikan yang terbaik bagi mereka yang militansinya tinggi. Sebagai muslim, kader atau bukan kader dakwah, seharusnya ngiler dalam urusan ini.
“Berangkatlah kamu, baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu dijalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui..” Q.S At Taubah [9] : 41.
*tulisan ini juga memenangkan lomba essai milad KAMMI ke 13
Diposkan oleh KAMMI Daerah Jember di 18:35 0 komentar
Senin, 07 Desember 2009
Hari yang Indah bagi Anak Yatim
Tak pelak hari itu keceriaan tulus menghiasi bibirnya. Ya, di hari itu pula mereka begitu gembira lain seperti hari-hari biasanya. Idhul qurban (baca; idhul adha, red), adalah hari raya ummat Islam sebagai bentuk rasa syukur kita dan dalam rangka melaksanakan ibadah kepada Allah swt, sebagaimana yang telah disampaikan melalui Nabi Ibrahim as., dan juga anaknya Ismail as., dalam hal berqurban, semoga Allah swt. meridhoi keduanya. Amin.
Hari itu beda dari hari-hari sebelumnya. Sungguh, begitu riangnya wajah mereka penuh dengan keceriaan campur bahagia. Hari raya Qurban, adalah moment terpenting bagi ummat Islam saat di mana kita bisa untuk saling berbagi dengan saudara-saudara kita yang kurang mampu, seperti yatim misalnya. Mereka yang kini hidup tanpa seorang ayah cukup sulit untuk mendapatkan makanan yang enak, mungkin hanya setahun sekali mereka mendapatkan daging seperti ini. bisa jadi karena sang ibu tidak bisa mencukupi kebutuhan sang anak dengan baik. Sebuah anugerah bagi kami dari Allah swt, teman-teman KAMMI Daerah Jember bisa berbagi dengan mereka. Kegiatan yang dimotori oleh bidang Sosmasy (Sosial Masyarakat) KAMMDA Jember ini dapat memberikan makna bagi kita semua, walaupun sebenarnya hari itu hari libur yang biasanya kebanyakan para mahasiswa mudik/ pulang kampung tapi masih ada dan bisa menyempatkan waktunya dari teman-teman KAMMI untuk saling berbagi dengan anak-anak yatim yang ada di desa Kasengan Kecamatan Kalisat itu.
Kebahagiaan kami tiada terkira melihat mereka tersenyum riang gembira. Kami berharap kegiatan ini bisa sedikit membantu/ meringankan beban hidup mereka yang kini menjadi seorang yatim. Walau tidak banyak daging qurban yang mereka terima, kami begitu merasakan kesenangan di wajah mereka. Syukur Alhamdulillah kami bisa bercanda ria dengan mereka, sejenak sambil menghilangkan kepenatan aktivitas kami di kampus ataupun kerja (maklum, ada yang ngampus sambil kerja J). Segala puji hanyalah bagi Allah.
Maka dari itu, kami ucapkan jazakumullah khairan katsir kepada semua pihak yang telah terlibat hingga terlaksananya kegiatan ini. Semoga Allah membalasnya dengan yang lebih baik. Amin.
Selamat Idhul Qurban 1430 H. Tingkatkan pengorbanan, suburkan keikhlasan. Bersama Mengingati Arti Pengorbanan Nabi Ibrahim as, dan Ismail as. [frz]
by Fariz
kadep sosmas kammda
Label: Kegiatan KAMMI
Diposkan oleh KAMMI Daerah Jember di 21:32 3 komentar
Minggu, 01 November 2009
MENENGOK PERANAN PEMUDA MENUJU PERUBAHAN
29 Oktober 2009
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung.”
(QS Ali Imran : 104).
Pemuda merupakan bagian tak terpisahkan dari rakyat. Dari tangan para pemuda inilah nasib bangsa dan Negara dipertaruhkan. Dalam perjalananya para pemuda yang dipelopori oleh mahasiswa mencoba untuk terus memperjuangkan kepentingan rakyat walaupun di satu sisi akan berbenturan dengan berbagai kepentingan rezim. Akan tetapi inilah hal yang membuktikan bahwa mahasiswa/pemuda merupakan iron stock yang akan membawa perubahan ke depan.
Ada fakta menarik bila kita sedikit flash back sejarah pergerakan mahasiswa dari rezim orba-reormasi:
1965
Demonstrasi terjadi di mana-mana sebagai reaksi ketidakpuasan mahasiswa akibat kebijakan pemerintah saat itu yang mengakibatkan ketimpangan social semakin terlihat. Kesenjangan ekonomi semakin tampak yang mengakibatkan kesengsaraan rakyat semakin menjadi. Reaksi ini mengkibatkan rakyat dan mahasiswa mengeluarkan TRITURA:
1. Turunkan harga
2. Rombak Kabinet dwikora
3. Bubarkan PKI
1974
Terjadi peristiwa MALARI . ratusan mahasiswa ditangkap karena dituduh berbuat makar. Peristiwa ini terjadi akibat pasar Indonesia dikuasai jepang hal ini jelas merugikan rakyat dan eksistensi Negara sendiri.
1978
Lahirnya NKK/BKK, yang menuntut mahasiswa untuk study oriented. Dema (dewan mahasiswa) dibubarkan, organisasi ekstra kampus dilarang beraktivitas di dalam kampus. Hal ini menyebabkan sempitnya ruang gerak dan berpikir mahasiswa. NKK (Normalisasi Kehidupan Kampus) adalah upaya untuk menjaga kehidupan kampus agar tetap beorientasi akademis. BKK (Badan Koordinasi Kampus) adalah upaya penyempitan ruang gerak mahasiswa melalui pengawasan yang ketat dari rektorat.
1980an
Untuk menekan pengaruh Islam, pemerintah memberlakukan asas tunggal (PANCASILA). Azas Pancasila terus didoktrinkan dalam kehidupan kampus. Hal ini juga menyebabkan HMI pecah menjadi HMI DPO dan HMI MPO.
1998
Badai krisis ekonomi menghantam Indonesia, kondisi ini semakin parah dengan adanya KKN para elite politik. Tuntutan agar Ssoeharto mundur terjadi dimana-mana, tragedi trisakti puncaknya. Mahasiswa dan rakyat berhasil menduduki gedung MPR/DPR. Rezim orba berakhir setelah pada tanggal 21 Mei 1998 menyatakan mengundurkan diri sebagai Presiden RI.
Era Reformasi
Pada era Presiden Habibie banyak ketidakpuasan yang disinyalir Habibie merupakan produk orba. Pada saat era Gus Dur juga diwarnai aksi akibat kasus bullogaite, nepotisme,dll yang berujung pemberhentian Gusdur sebagai presiden pada waktu itu. Pada era Megawati juga banyak demonstrasi Mahasiswa di berbagai daerah. Mahasiswa dan rakyat tidak puas dengan rezim waktu itu yang telah menjual aset nasional, korupsi sukhoi, dll. Ketika tampuk kepemimpinan beralih k SBY, juga tidak luput dari sorotan mahasiswa terhadap kinerja. Kebijakan menaikan harga BBM dan kedatangan bush menjadi isu paling dominan seputar demonstrasi mahasiswa. Pemerintah juga dinilai plin-plan terkait kebijakan menaikkan harga BBM. Pemerintah juga dinilai melukai rakyat dengan memanfaatkan momentum pemilu 2009 sebagai ajang untuk meraup suara dengan menaikkan gaji guru yang dinilai syarat unsur politis.
Fakta menarik yang bisa kita simpulkan dari kejadian di atas yaitu bahwa pemuda yang dipelopori oleh mahasiswa dari rezim orde lama-orde reformasi ini senantiasa terus bergerak mengawal kebijakan-kebijakan pemerintah melalui mimbar bebas,demonstrasi, diskusi publik, dll. Hal ini terus dilakukan oleh mahasiswa sebagai iron stock bangsa untuk membela kepentingan rakyat.
Momentum bagi pemuda sebetulnya sudah di mulai sejak zaman Rasulullah SAW. Bagaimana ketika itu beliau menjadi contoh riil semangat pemuda yang berhasil menyebarkan Islam sampai ke penjuru dunia. Umar bin Khattab mengatakan “setiap aku mempunyai masalah maka yang kucari adalah pemuda”.
Bila kita menengok di negara kita, Soekarno pernah mengatakan “berilah aku seorang pemuda maka aku akan mengguncang dunia”. Hal ini juga teraktualisasi dalam sumpah pemuda pada tahun 1928 sebagai pelopor persatuan nasional. Pada 1945 juga peran pemuda sebagai pelopor proklamasi kemerdekaanRI. Berujung pada 1998 juga peran serta pemuda yang berhasil menumbangkan rezim orba yang bertahan selama 32 tahun.
“”yaa ayyuhassabab inna fi yadikum amrol ummah wa fii aqdamikum hayaataha”
(wahai pemuda sesungguhnya di tanganmu urusan bangsa dan di derap langkahmu tertumpu hidup dan matinya suatu bangsa).
Pemuda selama bertahun-tahun bahkan berabad-abad menjadi corong kebangkitan suatu bangsa..bagaimanakah dengan sekarang?? Bila kita melihat bagaimana efek dari sumpah pemuda yang telah mengikat seluruh pemuda di tanah air untuk bersatu melawan imperialisme, pragmatisme, hedonisme, ini menjadi suatu titik tolak kebangkitan bangsa pada saat itu.
Siapapun yang memimpin bangsa ini, kepentingan rakyat tetap harus diperjuangkan. Islam telah mengajarkan bahwa apabila suatu urusan tidak diserahkan kepada ahlinya tunggulah saat kehancuran. Di era reformasi ini seharusnya menjadi momentum bagi pemuda sebagai nahkoda masa depan bangsa. Akan tetapi bila kita lihat di era reformasi inipun, praktis peninggalan orde barulah yang sampai sekarang sebagai nahkoda masa depan bangsa. Ini tentunya kontras dengan spirit dan idealisme para pemuda yang berjuang tak kenal lelah.
Momentum tentunya masih ada dan akan terus berlanjut beriringan dengan spirit pemuda itu sendiri. Kedepan diharapkan akan muncul sosok-sosok pemuda yang memiliki jiwa negarawan. Pemuda muslim tentunya akan menjadi icon besar dalam peranannya mengawal agenda-agenda reformasi. Pribadi Muslim Negarawan diharapkan akan senantiasa menghiasi pemuda-pemuda muslim bangsa ini sebagai umat mayoritas di Tanah Air ini yang ke depan diharapkan mampu membawa perubahan positif bagi bangsa dan negara ini. Pribadi Muslim Negarawan tidak hanya sebagai pejabat politik, tetapi juga berani menolak setiap bentuk intervensi asing dan berbuat untuk kepentingan rakyat yang dilandasi dengan nilai-nilai Islam.
Bila kita perhatikan selama ini kebanyakan peranan pemuda hanya sebatas sebagai “yudikatif (pengawas)” kebijakan-kebijakan pemerintah. Sang “eksekutif (eksekutor)” adalah pemerintah yang rata-rata dihuni pejabat tua. Hal ini seringkali terjadi benturan ditataran lapangan diakibatkan perbedaan paradigma antara golongan tua dan muda. Sejarah di Republik ini mencatat pemuda/mahasiswa selalu berada di garda depan membela kepentingan rakyat.
Solusi alternatif kedepan diharapkan terjadinya keseimbangan antara golongan tua dengan golongan muda ditataran legislatif, eksekutif, dan yudikatif. Artinya ke depan perumus kebijakan, pelaksana kebijakan, dan pengawas kebijakan merupakan kolaborasi yang seimbang antara kaum senior dengan pemuda. Solusi ini diharapkan akan membawa bangsa dan negara ini menuju bangsa dan negara yang adil dan bermartabat. Wallahua’lam
By Firdian Tri Cahyo
KADEP. KP KAMDA JEMBER
Diposkan oleh KAMMI Daerah Jember di 06:08 2 komentar
Senin, 11 Mei 2009
TRANSFORMASI KONSEP ARKANUL BAI’AH DALAM AMAL SIYASI KAMMI
“Sesungguhnya seorang muslim tidak sempurna keislamannya kecuali jika ia bertindak sebagai politisi. Pandangannya jauh ke depan terhadap persoalan umatnya, memperhatikan dan menginginkan kebaikannya. Meskipun demikian, dapat juga saya katakan bahwa pernyataan ini tidak dinyatakan oleh Islam. Setiap organisasi Islam hendaknya menyatakan dalam program-programnya bahwa ia memberi perhatian kepada persoalan politik ummatnya. Jika tidak demikian, maka ia sendiri yang sesungguhnya butuh untuk memahami makna Islam.”(Hasan Al Banna)
Suatu catatan penting dari Imam Hasan Al-Banna adalah peringatannya tentang adanya pemahaman yang sempit bahwa jika disebut dengan politik maka orang-orang akan segera membayangkan sebuah partai politik. Politik yang dimaksudkannya bukanlah sekadar sebuah partai politik, tetapi keseluruhan aktivitas dakwah yang dilakukan untuk mengurusi nasib umat hingga mengangkat mereka ke kedudukan sebagaimana yang diperintahkan Al-Quran di tengah-tengah manusia.
Korelasi Amal Siyasi dengan Arkanul Bai’ah dalam Realitas Perpolitikan KAMMI
Amal siyasi sebagai bagian penting dari keseluruhan amal Islami harus mendapat perhatian serius dari para aktivis dakwah dan bai’at mereka kepada jalan dakwah adalah bai’at mereka pula kepada amal siyasi. Dakwah Islam tidak menyerukan sikap memisahkan diri dari persoalan-persoalan kemasyarakatan yang ada dalam tubuh umat Islam. Jika pun terdapat upaya-upaya memilah lingkungan kehidupan para aktivis dakwah dari masyarakat umum, maka tujuannya bukan untuk lari dari masyarakat yang menjadi tanggungjawab dakwahnya. Tetapi, hal itu dilakukan hanya untuk konsolidasi internal mereka agar memiliki kekuatan yang lebih besar dalam memecahkan persoalan-persoalan masyarakat tersebut. Atau, agar mereka tidak tergelincir karena tarikan-tarikan dasyhat kemaksiatan sehingga ia akhirnya justru menjadi bagian dari persoalan tersebut.
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). Barangsiapa yang membelakangi mereka di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya adalah neraka jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya.” (Q.S. 8/Al-Anfaal: 16).
Kefahaman tentang amal siyasi yang dikembangkan pada saat ini boleh jadi berbeda dengan sebelumnya karena perbedaan-perbedaan situasi dan kondisi yang menyertainya. Pandangan Imam Hasan Al-Banna tentang sistem kepartaian yang menyebabkan beliau tidak mendirikan partai politik, tetapi membolehkan kesertaan dalam pemilihan umum telah diposisikan secara aktual dalam beberapa kurun terakhir. Partai-partai politik dalam berbagai bentuknya telah berdiri dan diusung oleh para aktivis dakwah di berbagai negara dalam rangka amal siyasi mereka berdasarkan syuro-syuro yang mereka lakukan. Amal siyasi yang dilakukan bukanlah sekadar untuk meraih kekuasaan dan mencapai kedudukan-kedudukan tinggi dalam pemerintahan, tetapi semata-mata ditujukan bagi penegakkan hukum-hukum Allah SWT di dalam masyarakat berdasarkan prinsip-prinsip keadilan yang telah digariskan-Nya. Inilah rukun ikhlas yang akan menjauhkan aktivis dakwah dari perangkap kediktaktoran, korupsi, dan kesombongan tatkala meraih suatu kedudukan dalam kekuasaan.
Setiap aktivis menyadari sungguh-sungguh dengan kefahamannya dan keikhlasannya bahwa amal siyasi yang dilakukannya adalah bagian dari kerja besar dari tangga-tangga mihwar ta’sisi, mihwar tanzhimi, mihwar sya’bi, mihwar muasasi dan mihwar dauli. Dalam kaitan koalisi kerja teknis Imam Hasan Al-Banna menyatakan, “Tidaklah mengapa menggunakan orang-orang non-muslim –jika keadaan darurat- asalkan bukan untuk posisi jabatan strategis (dalam pemerintahan).” Kesungguhan dalam kerja siyasi adalah bagian dari ruhul jihad yang harus dilakukan. Kesungguhan itu akan terjadi jika aktivis dakwah menghargai dan mematuhi jalan dakwah yang telah digariskan berdasarkan syuro. Tidak boleh ada seorang pun yang bermalas-malasan dalam bidang ini hanya lantaran ia merasa bukan bidangnya atau tidak sependapat dengan hasil-hasil syuro. Apapun yang disumbangkan dalam amal siyasi, mulai dari harta sampai dengan jiwa, adalah bagian dari ruhul tadhiyah (jiwa pengorbanan) di jalan dakwah. Tidak ada istilah mati sia-sia dalam suatu amal siyasi karena seluruh pengorbanannya harus diyakini akan dihisab oleh Allah SWT dengan timbangan kebaikan dakwah.
Kelima Bai’ah tersebut jika dikorelasikan dengan realitas perpolitikan KAMMI, saya kategorikan sebagai mobilitas internal organisasi dan lima bai’ah selanjutnya (at tho’at, tsabat, tajarud, ukhuwah, dan tsiqoh) saya kategorikan sebagai mobilitas eksternal organisasi. Sebagaimana peran dari Arkanul Bai’ah adalah sebagai pemicu, pemacu, dan pemecut bagi akselerasi gerakan dakwah itu sendiri agar arkanul bai’ah itu dapat mempercepat tercapainya ahdafu da’wah (sasaran-sasaran dakwah) dan ghayatu da’wah (tujuan-tujuan dakwah) sehingga peningkatan kualitas dan kapasitas interaksi dengan arkanul bai’ah haruslah mendahului ekspansi dakwah yang dilakukan.
Mari kita analisa lebih jauh mengenai kelima bai’ah tersebut (al fahm, ikhlas, amal, jihad, dan at tadhiyah) dalam realitas perpolitikan KAMMI. Fenomena maraknya aktivis/ politisi yang keluar rel dakwah organisasi menjadi sesuatu yang kian biasa, bahkan tanpa kontrol keras dari institusi struktur yang lebih tinggi sekalipun. Kita ambil kasus dari beragam daerah di Indonesia. Hipotesa saya bahwa semakin metropolitan sebuah daerah/kota maka sense of belonging aktivis terhadap wajihahnya semakin besar. Dan sebaliknya, semakin kecil/kurang metropolitan sebuah kota/daerah maka semakin rendah sense of belonging aktivisnya terhadap wajihahnya. Dengan kata lain, semakin kota sebuah daerah maka semakin tinggi loyalitas aktivisnya dan sebaliknya semakin ‘desa’/jauh dari makna kota sebuah daerah maka semakin rendah loyalitas aktivisnya. Benar ga?
Di daerah yang jauh dari makna kota (‘desa’), dakwah apapun modusnya dinilai sama. Baik dakwah KAMMI, kampus, sekolah, maupun masyarakat. Terlepas dakwah secara partai ataupun independent. Sehingga dengan fenomena demikian secara tidak langsung mencetak aktivisnya menjadi pribadi yang kurang memiliki kesetiaan dalam satu wajihah. Distorsi pemahaman mengenai platform masing masing wajihah kian marak. Artinya, dengan alasan ‘banyak amanah’ sehingga aktivis tidak mempelajari platform wajihah yang digelutinya. Dan sangat wajar jika mereka lantas tidak memiliki rasa kepemilikan terhadap wajihahnya yang tanpa disadari pula mempengaruhi inovasi-inovasi dakwah yang selayaknya dilakukan terhadap wajihah yang digelutinya.
Terlebih dalam ranah politik yang merupakan ranah akhir setelah aktivis melewati kematangan dalam ranah tarbawi dan ijtima’i tentunya. Hipotesa turunan dari hal ini adalah ‘aktivis di daerah kota tidak perlu diajari bagaimana berpolitik, membaca realitas yang ada mereka sudah cukup cerdas dalam bersikap. Begitu sebaliknya, aktivis di daerah yang jauh dari makna kota (‘desa’) menjadi perlu diberi pembinaan intens mengenai bagaimana berpolitik yang mungkin realitas di daerahnya tampak aman sehingga hormone adrenalin aktivis yang tinggal di daerah yang jauh dari makna kota kurang bekerja optimal dibandingkan dengan aktivis yang tinggal di daerah kota. Hipotesa tersebut merupakan eksperimentasi dari tangga mihwar-mihwar dakwah.
Lantas bagaimana realitas loyalitas aktivis di daerah yang semakin metropolitan? Berdasarkan hipotesa diatas bahwa mereka memiliki loyalitas yang tinggi sampai-sampai menjadikan wajihah ini sebagai bagian dari hidupnya. Dan tanpa disadari mereka menjual KAMMI yang sebagian keuntungannya menjadi pemasukan pribadi mereka. Wajihah ini dijadikan sebagai ladang bisnis dengan membagi-bagikan proyek negara/swasta yang tanpa disadari menjadi sarana tutup mulut singa-singa reformis yang teriakan dulunya terdengar keras. Pembungkaman seruan-seruan kebaikan menjadi hal yang mulai luntur. Dan dimana mereka sekarang sang singa reformis,oh.. ternyata sudah takluk dimakan proyek2 itu. Distorsi pemahaman pula mengenai makna Muslim Negarawan. Mereka berdialektika ‘diam’nya mereka sebagai wujud kematangan dalam sikap politik yang dilakukannya. Padahal tidak sama sekali. Istilah ‘Broker politik’, politisi KAMMI di suatu daerah yang menggemakan seruan “GOLPUT” untuk KAMMI Daerahnya terhadap pemilu beberapa waktu yang lalu menjadi realitas bobroknya pembinaan mereka akan politik islam yang seharusnya digemakan.
Jadi, akar permasalahan dari realitas perpolitikan dalam tubuh KAMMI dengan transformasi Arkanul Bai’ah adalah REVITALISASI RUHUL SIYASAH ISLAM DALAM INTERNALISASI GERAKAN MENUJU KEMANDIRIAN DAN KEMATANGAN BERPOLITIK. Bagaimana kira-kira caranya, kita tunggu episode kedua.
Inilah Pe Er terbesar kita sesungguhnya.
Demi KAMMI Tercinta,
Arifah Yusti Kencana
Staf Dept. Kastrat KAMDA Jember
Diposkan oleh KAMMI Daerah Jember di 02:25 4 komentar
Sabtu, 02 Mei 2009
PERINGATAN DARI IMAM SYAHID HASAN AL BANNA
Suatu hal yang harus kita ingat adalah bahwa Islam tersebar hingga ke India bukan memalaui ulama, namun melalui para pedagang yang menampilkan dirinya sebagai seorang muslim yang patut diteladani karena terpercaya dan jujur.
Dakwah apapun, terlepas dari benar atau tidaknya pemahaman yang ia bawa maka janganlah kamu melihat awalnya ketika dia tidak memiliki apa apa. Lihatlah setelah mereka menang dan memiliki segala fasilitas dunia, niscaya akan kamu dapati kebanyakan dari mereka melakukan penyelewengan yang mulai muncul. Tahukah kita sesungguhnya apa yang ia dakwahkan adalah ketika mereka belum memiliki apa apa. Adapun setelah dunia terkuasai, maka terbukalah bagi mereka pintu syahwat keduniaan dan memperturutkan hawa nafsu semisal melupakan amanah (jabatan) yang kecil menuju jabatan yang dianggap lebih besar, itulah yang kemudian merusak dan mengotori prinsip mereka sendiri.
Hal ini telah menimpa semua ideology yang tersebar di berbagai belahan dunia. Ketika munculnya revolusi, maka yang mereka inginkan pada awalnya adalah perbaikan, mengganti system yang rusak dengan system yang mereka yakini kebenarannya. Namun setelah beberapa masa terdapatlah beberapa tuduhan yang tertuju kepadanya. Sehingga akan terjadi revolusi berikutnya. Mengapa ini bisa terjadi? Tidak lain karena yang mereka inginkan sebatas dunia yakni kekuasaan dan tumpuk pemerintahan, bukan untuk perbaikan, bukan pula untuk menegakkan hukum Allah.
Hendaknya semua sadar akan bahaya yang hanya mengandalakan untaian kata kata, yang secara lahiriah tampak sebagai rahmat tetapi pada hakekatnya didalamya terkandung azab. Benarlah Allah berfirman :
“ sesungguhnya orang orang yang memecah belah agama mereka dan mereka terpecah menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka…”(Al-An’am : 159)
Semoga Allah meridhai Imam Syahid Hasan Al-Banna, ketika beliau mengingatkan para pengikut dakwahnya terhadap makna ayat tersebut beliau berkata “ sesungguhnya rajulul qaul (tukang bicara) itu berbeda dengan rajulul amal (ahli amal), dan rajulul amal berbeda dengan rajulul jihad dan rajulul jihad berbeda dengan rajulul jihad yang produktif dan bijaksana (rijaluddin).
Sesungguhnya kebanyakan orang bisa berbicara, tetapi sedikit sekali diantara mereka yang mampu bertahan ketika harus beramal, dari yang sedikit beramal itu, sedikit saja yang mampu memikul beban jihad yang berat diatas jalan yang terjal ini. Mujahid itu adalah orang orang yang terpilih dan sedikit jumlahnya, oleh karena itu para pendukung dakwah bisa tersesat jalan dan tidak sampai pada tujuan kalau dia tidak menyandarkan diri pada pertolongan Allah.
Al-Quran telah bersikap tegas dan keras kepada orang orang yang pandai memberi nasehat pada manusia, tetapi tidak mau mengambil nasehat. Mereka mencegah manusia tetapi dirinya sendiri terlupakan. Allah berfirman :
“ mengapa kamu suruh orang lain mengerjakan kebaikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca kitab?maka tidakkah kamu berfikir?(Al-Baqoroh : 44)
Sayyid Quthb dalam tafsir Fii Zhilalil Qur’an dalam menafsirkan ayat tersebut mengatakan “ sesungguhnya bahaya rijaluddin adalah ketika agama telah berubah menjadi profesi. Saat itu agama bukan lagi sebagai aqidah serius yang mampu memotivasi. Namun mereka mengubah kalam Allah dari makna yang semestinya, dan menakwili nash nash yang qath’i (jelas dan pasti) demi memperuntukkan hawa nafsu dan keduniaanya. Mereka memberikan fatwa fatwa dan penakwilan secara zhahiriah namun hakekatnya berbeda dengan hakekat agama, demi memuaskan keinginan dan hawa nafsu orang oaring yang memiliki harta dan kekuasaan, sebagaimana hal itu sering dilakukan oleh para pendeta Yahudi. (Fiqih Dakwah : Jum’ah Amin Abdul Aziz)
Kutipan ini untuk seluruh saudaraku seaqidah Al-Islamiah yang hidup dengan Al-Quran dan Sunnah, dan saya khususkan sedikit pengetahuan ini untuk saudara-saudaraku jamaah tarbiah terlebih lagi untuk harakahku muslim negarawan . Semoga Allah membimbing kita menjadi rajuluddin yang hakiki dengan tetap teguh dalam kondisi suka maupun duka serta tetap sabar, tawadhu, istiqamah, dan tabah dalam kondisi apapun..!Amiin Allahumma Amiin, wallahu a’lam bishawab by RHS
Diposkan oleh KAMMI Daerah Jember di 22:08 1 komentar
Jumat, 01 Mei 2009
CERITA BARU TENTANG vs KURA KURA DAN KELINCI
Cerita sebelumnya
Suatu hari Kura Kura dan Kelinci berdebat tentang siapa yang lebih
cepat. Mereka menyetujui jalur tertentu untuk bertanding dan mulailah
mereka bertanding
Sang Kelinci melesat dengan cepat dan setelah merasa jauh melampaui Kura
Kura dia berhenti sejenak dibawah pohon untuk beristirahat sebelum
memulai lagi perlombaannya.
Sang Kelinci terduduk dibawah pohon dan akhirnya tertidur.
Dan Kura Kura berhasil melampauinya dan keluar sebagai juara
Sang Kelinci terbangun dan mendapatkan dirinya kalah didalam perlombaan tersebut.
Maksud dari cerita ini adalah :
mereka yang lambat, apabila konsisten, akan dapat memenangkan pertandingan
Itu adalah cerita yang biasa kita dengar sejak masa kecil
CERITA BARU TENTANG vs KURA KURA DAN KELINCI
Baru baru ini seseorang bercerita versi baru yang lebih menarik.
Rupanya ceritanya bersambung ....
Sang Kelinci sangat kecewa dengan kekalahannya lalu melakukan analisis penyebabnya.
Dia sadar bahwa dia kalah karena terlampau percaya diri, kurang hati hati dan terlena
Kalau saja dia bisa lebih waspada maka tidaklah mungkin Kura Kura bisa mengalahkannya.
Lalu ditantangnya lagi Kura Kura tersebut untuk melakukan lomba ulang yang disetujui oleh Kura Kura
Dan kali ini, sang Kelinci menang mutlak karena dia berlari tanpa henti
Maksud dari cerita ini adalah :
Cepat dan konsisten akan mengalahkan yang lambat dan konsisten
Kalau ada dua orang diperusahaan, yang satu lambat, pakai metoda dan
handal sedangkan yang satu lagi cekatan dan handal, maka yang cepat dan
handal akan maju lebih cepat
Lambat asal Konsisten itu bagus akan tetapi lebih bagus lagi kalau Cepat dan Konsisten
Tetapi ceritanya tidak hanya sampai disini.
Kali ini sang Kura Kura mulai berpikir dan sadar bahwa tidaklah mungkin berlomba dengan Kelinci pada jalur seperti yang lalu
Setelah berpikir keras, kali ini Kura Kura menantang sang Kelinci untuk berlomba lagi pada jalur perlombaan yang berbeda
Sang Kelinci setuju.
Mereka mulai berpacu dan sang Kelinci berlari dengan cepat tanpa
berhenti sampai akhirnya terpaksa berhenti ditepi sungai, karena harus
menyeberang
Rupanya garis finish nya terletak beberapa ratus meter setelah tepi diseberang sungai .
Sang Kelinci bingung tidak tahu harus berbuat apa...
dan tak lama kemudian muncul Kura Kura menyusul dan dengan santainya
menyeberang sampai kegaris finish dan memenangkan pertandingan
Maksud cerita ini adalah:
Pertama, temukan kekuatan utama anda kemudian carilah tempat bertanding yang sesuai dengan kekuatan utama anda
Di Perusahaan, kalau anda pandai berbicara, carilah kesempatan untuk
memberikan presentasi sehingga pimpinan anda bisa melihat kemampuan anda
Kalau Kekuatanmu adalah menganalisis, carilah peran yang membutuhkan kemampuan analisis.
Bekerja pada Kekuatanmu bukan hanya menunjukkan kehebatanmu akan tetapi juga menciptakan kesempatan untuk maju dan berkembang
Kalau Kekuatanmu adalah mengorganisir, carilah peran untuk
mengorganisir sesuatu kegiatan penting agar perusahaan tahu bahwa anda
mungkin pantas menjadi manager
Kalau Kekuatanmu adalah waspada dan teliti carilah peran yang
membutuhkan kewaspadaan dan ketelitian seperti peran yang terkait
dengan keselamatan, hukum atau keuangan
Ceritanya belum selesai lho.
Kali ini sang Kelinci dan Kura Kura menjadi bersahabat dan mulai memikirkan solusi masalah bersama sama.
Keduanya sadar bahwa lomba yang terakhir bisa dilakukan dengan jauh lebih baik
Jadi mereka memutuskan untuk melakukan perlombaan lagi , cuma kali ini mereka berlari dalam satu team
Mereka mulai berlari .. mula mula sang Kelinci menggendong Kura Kura
sampai ketepi sungai, kemudian disini Kura Kura yang menggendong Kelinci
untuk menyeberangi sungai
Diseberang satunya Kelinci mulai menggendong Kura Kura lagi sampai kegaris finish.
Sampai digaris finish keduanya merasa puas karena berhasil tiba dengan waktu yang jauh lebih cepat dari lomba sebelumnya
Maksud cerita ini adalah:
Bagus menjadi orang yang brilian dan mempunyai kekuatan utama; akan
tetapi tanpa bisa bekerjasama didalam suatu team dan menjalin masing
masing kekuatan utama, hasilnya tidak akan maksimal karena selalu ada
situasi dimana anda berkinerja kurang sedangkan rekan lainnya lebih
baik.
Kerjasama adalah masalah kepemimpinan yang sesuai dengan situasi, yaitu
dengan memberikan kesempatan kepada seseorang yang memiliki kompetensi
inti yang sesuai dengan situasi mengambil alih kepemimpinan.
Ada lagi yang dapat dipelajari disini ?
Catat bahwa baik Kelinci maupun Kura Kura tidak pernah menyerah setelah mengalami kegagalan.
Bahkan Sang Kelinci bekerja lebih keras setelah kegagalannya
Sedangkan Kura kura mengubah Strategi nya karena dia sudah berusaha sekuat tenaga.
Dalam hidup, kalau kita menghadapi kegagalan, terkadang bisa diatasi dengan bekerja lebih keras dan menambahkan usaha
Kadang akan lebih cocok untuk mengubah Strategi dan melakukan sesuatu yang berbeda.
Dan terkadang lebih cocok melakukan keduanya
Keduanya juga belajar sesuatu pelajaran yang sangat penting..
Kalau kita berhenti berkompetisi dengan saingan kita lalu mulai
berkompetisi dengan situasi, kita akan bisa mendapatkan kinerja yang
jauh lebih baik
Ringkasnya, cerita ini mengajarkan banyak hal pada kita.
Pelajaran yang penting adalah:
-Bahwa cepat dan konsisten akan selalu lebih baik daripada lambat dan konsisten
-Ambilah peran yang sesuai dengan kEKUATAN utama anda
-Kumpulkan kekuatan dan bekerja didalam team akan selalu mengalahkan jagoan individu;
-Jangan pernah menyerah kalau gagal;
-Dan akhirnya, bersainglah melawan situasi, jangan melawan pesaing.
Nah... Sekarang.. Waktunya mengenal siapa Diri anda sendiri ???
TEMUKAN DIRI ANDA SEBENARNYA
DAN MAKSIMALKAN KEKUATAN ANDA
From Surviving to Thriving with DISC Personality Profile
From millis tetangga.
Label: Umum
Diposkan oleh KAMMI Daerah Jember di 16:15 3 komentar
